29 Jul 2021 14:16
Epidemiolog Sebut Indonesia Negara Paling Berbahaya di Dunia, Ini Alasannya
Oleh Hidayat Kusumadinata
Image Description. Sumber: Unknown

Jakarta, OneSmile - Epidemiolog Tifauzia Tyassuma menyatakan Indonesia menjadi negara paling berbahaya di dunia. Penularan Covid-19 masih terus tumbuh dan mutasi sudah terjadi.

"Karena kasus kita masih terus tumbuh, mutasi sudah terjadi, dana mutasi origin juga ditengarai sudah terjadi," kata Tifauzia dalam video daring diskusi yang digelar Partai Gelora, Rabu (7/2021).

Virus mutasi Delta, kata Tifauzia, adalah virus mutasi origin yang terjadi di India. "Dan kuat dugaan dari peneliti di Indonesia ini ketika kasus berkepanjangan akan terjadi dan sudah terjadi dua varian yang diduga mutasi origin dari Indonesia," ujar Tifauzia.

Melihat dari Case Fatality Rate (CFR) atau tingkat kematian yang terus tumbuh dan masih fluktuatif, lanjut Tifauzia, mutasi dan munculnya varian origin dari Indonesia sangat mungkin terjadi dan menyebar.

Menurut Tifauzia, dari tendensi di DKI Jakarta yang semula jumlah kasus 70 persen dan sekarang sudah turun menjadi 23 persen konsekuensi logisnya varian baru ini menyebar ke seluruh Indonesia.

"Makanya kita juga sekarang sudah lihat di empat pulau besar kasus Covid-19 sudah mulai naik," ujarnya.

Pandemi Selalu Menyelesaikan Dirinya Sendiri

Menurut Tifauzia agar krisis kesehatan yang terjadi dampaknya tidak multiplier effect ke masalah pangan, sosial, ekonomi dan kemudian menghasilkan chaos, Pemerintah harus fokus menyelesaikan masalah utamanya yaitu soal kesehatan.

"Di sisi kesehatan dulu dan paralel dengan sisi ekonomi," kata Tifauzia.

Sayangnya, kata Tifauzia, pemerintah itu fokusnya pada vaksinasi. Masalahnya, akumulasi dana terbesar itu untuk imunisasi.

"Sekarang kita bertanya dulu ketika pandemi ini kemungkinan tidak selesai di akhir 2022, dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah memberikan peringatan bahwa mutasi kemungkinan akan terus berlanjut berapa lama vaksinasi itu akan terus diprogramkan?" terang Tifauzia.

"Apakah benar bahwa selesainya pandemi ini satu-satunya cara adalah dengan vaksinasi. Ini sangat perlu diperhatikan," ujarnya.

Sejak September 2020, Tifauzia mengaku sudah memberikan peringatan kalaupun seandainya vaksin menjadi jalan keluar, maka vaksin yang seharusnya dibeli adalah vaksin yang punya efektifitas tertinggi.

"Sebutan di sosial media saya adalah Vaksin Sultan atau vaksin yang mempunyai efikasi 92 persen ke atas seperti vaksin yang dipergunakan di Amerika Serikat dan Eropa," katanya.

"Itu pun di negara-negara tersebut tendensi di bulan Juli akhir menuju Agustus enam kontinen ternyata menunjukkan kenaikan Covid-19. Artinya apa, ternyata vaksinasi kelas Sultan sekalipun masih terjadi perombakan-perombakan supaya mumpuni dalam melawan varian-varian mutasi baru," papar Tifauzia.

Melihat perkembangan yang terjadi dan juga kita melihat dari pandemi-pandemi sebelumnya, kata Tifauzia kita harus siap-siap pandemi ini akan berlangsung sedikitnya antara 3 - 5 tahun.

"Artinya ketika kita Pilpres 2024 sekalipun pandemi ini masih ada dengan asumsi mutasi-mutasi yang terjadi belum ada solusi untuk pengendalian sama sekali," kata Tifauzia.

Berdasarkan pengalaman, karakter dan sifat pandemi yang terjadi di dunia, kata Tifauzia, bahwa pandemi itu dari abad ke abad dari tahun ke tahun selalu menyelesaikan dirinya sendiri.

"Pandemi itu selalu menyelesaikan dirinya," tegasnya.

Berita BSD Lainnya Untuk Anda
This is just a placeholder text. Please enter a description here. Long or Short is okay.